Dunia Paralel, Hitler, Gombal
11 September 2009 at 8:45 am 1 komentar
Waktu SMA, aku pernah menulis sebuah cerpen untuk majalah sekolah. Seingatku, sekelas disuruh oleh guru Bahasa Indonesia untuk membuat sesuatu yang nanti akan dimuat dalam majalah. Aku berpikiran untuk menulis sebuah cerpen berdasarkan suatu ide yang waktu itu terngiang di kepalaku. Ide itu adalah dunia paralel.
Dunia paralel adalah dunia lain yang serupa dengan dunia kita, tetapi memiliki sejarah yang berbeda. Mudahnya seperti ini. Kita selalu dihadapi oleh berbagai pilihan. Di dunia ini, kita mengambil satu pilihan, tetapi di dunia yang lain, kita memillih pilihan yang lain. Dalam kata lain, ada tak hingga banyak dunia dalam alam semesta ini dan setiap kemungkinan pilihan pasti terjadi di satu dunia atau lebih.
Kalau di cerita yang menggunakan konsep dunia paralel, biasanya seorang penulis memilih satu kejadian penting dalam sejarah sebagai titik percabangan. Sebagai contoh, titik yang paling sering digunakan adalah kemungkinan yang terjadi bila Hitler memenangkan Perang Dunia Ke-2. Dari situ, penulis akan memikirkan bagaimana dunia akan berjalan selanjutnya. Apakah dunia akan bersatu di bawah bendera Jerman? Apakah ideologi Nazi akan dianut oleh masyarakat luas? Apakah kumis kecil akan menjadi tren di kalangan laki-laki?
Suatu saat aku kepikiran, “Bagaimana kalau titik percabangan itu terletak di jalur hidup seseorang yang biasa?” Aku rasa ini membuat ceritanya lebih dekat ke kehidupan sehari-hari dan lebih “melankolis”. Bukankah kita semua pernah berpikir tentang apa yang akan terjadi bila suatu kejadian berjalan di jalur yang berbeda?
Mungkin saja, di dunia lain kamu berhasil menemukan orang yang 100% sempurna untuk kamu karena kamu belok kiri di sebuah persimpangan, suatu keputusan yang tidak kamu ambil di dunia ini. Mungkin saja, di dunia lain kamu masih bisa bersama dengan seseorang yang kamu sayangi karena dia tidak pernah pindah ke kota lain.
Kadang-kadang aku ingin melihat dunia itu.
Jadi, bagaimana cerita cerpennya?
Seorang lelaki menulis sebuah surat perpisahan kepada teman perempuan lamanya. Mereka berdua dulu sangat dekat waktu masih kecil, tetapi suatu saat mereka berpisah. Ketika mereka bertemu lagi, mereka berdua sudah menjalani hidup yang berbeda. Teman perempuannya menjadi orang yang gaul dan dikenali banyak orang sedangkan lelaki itu masih seperti dulu. Seiring dengan waktu, mereka tidak menjalankan hubungan lagi. Lelaki itu menjadi seorang ilmuwan dan temannya menjadi seorang model terkenal. Lelaki itu terus mengirim surat kepada temannya, tetapi tidak pernah dibalas. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk menggunakan mesin yang ia ciptakan untuk meninggalkan dunia ini karena dia sudah putus asa. Kata-kata terakhirnya di suratnya:
“Mungkin kamu tidak akan peduli, tetapi seandainya aku salah, ingatlah satu hal. Di suatu dunia lain, kita tidak pernah berpisah.”
Bila aku baca lagi, tulisannya sedikit gombal. Mungkin nanti aku akan memperluas ceritanya.
Atau apakah sudah terjadi di dunia lain?
Entry filed under: Opini. Tags: cerpen, dunia paralel, gombal, hitler.
1 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Agus Suhanto | 12 September 2009 pada 10:42 am
nuhun o atas postingnya yg bagus… kenalkan saya Agus Suhanto