Posts filed under ‘Musik’

Konbini: Miku Dan Alat Musik Elektronik

Sebelumnya, aku minta maaf karena minggu kemarin tidak ada tulisan Hatsune Miku. Aku sedang berada di Bandung dan koneksi internet yang ada di sana kurang bisa diandalkan.

Mari kita lanjutkan!

Lagu di atas adalah コンビニ (Konbini) karya cokesi. Inti dari lagu itu sesuai dengan klip videonya, yaitu cerita tentang seseorang yang tertarik dengan seorang karyawan sebuah minimart.

Lagu ini merupakan salah satu contoh lagu Hatsune Miku yang menonjolkan alat musik elektronik. Dari yang aku lihat selama ini, banyak lagu Miku yang seperti itu. Aku memikirkan dua alasan mengapa itu bisa terjadi.

Pertama, lagu pop Jepang memiliki kecenderungan terhadap pemakaian alat musik elektronik yang menonjol. Coba perhatikan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh idola-idola Jepang. Tidak jauh beda, bukan? Karena Miku juga merupakan idola, pencipta lagu membuat lagu yang sesuai dengan kecenderungan lagu-lagu itu.

Yang kedua, suara Miku memang cocok bila dia bernyanyi dalam musik yang serba elektronik. Dalam lagu techno dan sejenisnya, suara penyanyi sering dikenakan efek khusus yang membuat suara mereka seperti suara robot. Miku tentu memiliki ciri-ciri suara robot. Kedua hal tersebut menyebabkan suara Miku terdengar lebih alami.

9 Oktober 2009 at 9:29 pm Tinggalkan Komentar

Darlin’ Please!: Perkenalan

Mari kita biarkan Miku memperkenalkan dirinya sendiri!

Lagu di atas berjudul “おしえて!だぁりん” (Oshiete! Daarin) atau “Darlin’ Please”. Aku rasa lagu itu cukup untuk perkenalan singkat, tapi karena sebagian pembaca tidak mengerti apa yang Miku nyanyikan, biar aku jelaskan.

Hatsune Miku adalah salah satu Vocaloid yang dibuat Yamaha (“Teknologinya nomor satu di dunia, lho!” kata Miku di lagu). Dengan menggunakan program Vocaloid, seorang penulis lagu tinggal mengetik lirik serta melodi dan nanti Vocaloid akan menyanyikannya. Inti dari “Darlin’ Please” adalah permintaan Miku terhadap pemilik barunya. Dia ingin diajari kata-kata baru supaya ia bisa menyanyikannya dengan suara yang membuat orang tersenyum lebar. Akan tetapi, jangan mengetik kata-kata yang tidak senonoh karena Miku adalah “idola semua orang” (Kata dirinya sendiri di lagu).

Memang, sih, aku belum mendengar lagu yang menggunakan kata-kata tidak senonoh….

25 September 2009 at 9:57 pm 2 komentar

Seri Miku: Pengantar

Setiap hari Jumat untuk beberapa minggu ke depan, aku akan membahas tentang Hatsune Miku, idola dunia maya. Tiap tulisan akan diiringi dengan klip video lagu yang dinyanyikan oleh Miku. Jadi, lihat tempat ini!

18 September 2009 at 7:02 pm Tinggalkan Komentar

Lagu Kampungan Bagus Bila Dianggap Komedi

Hari Minggu yang lalu, aku membaca di koran bahwa Project Pop baru saja mengeluarkan album baru berjudul You Got. Berikut adalah klip single pertama album itu, “Batal Kawin”.

Bisa dilihat bahwa mereka masih konsisten dengan membawakan lagu komedi. Kelucuan lagu itu muncul dari aransemen yang berubah genre pada saat lirik lagu berkata bahwa tokoh gagal kawin. Mereka menggunakan trik yang sama dalam beberapa lagu mereka seperti “Dangdut Is The Music of My Country” dan “Dugem vs Metal”.

Mengenai gaya musik itu, kita bahas di lain hari. Hal yang ingin aku bahas sekarang adalah sebuah pikiran mengenai lagu Indonesia yang muncul akhir-akhir ini. Coba perhatikan klip berikut ini, “Cari Jodoh” karya Wali.

“Kampungan!”, beberapa dari pembaca akan berkata lalu dilanjutkan dengan, “Ya, inilah kenapa industri musik kita gak maju-maju,” atau “Daripada dengerin lagu kayak gitu mendingan lagu luar aja, deh!”. Aku setuju, tapi untuk sekarang ini kita belum bisa melakukan apa-apa. Oleh karena itu, kita harus mengubah sedikit cara pandang terhadap lagu-lagu seperti itu.

Anggap saja mereka sebagai band komedi.

Coba bandingkan dengan single Project Pop di atas. Tema lirik kedua lagu itu sama-sama mengenai pernikahan dan gaya bahasanya tidak jauh berbeda, tetapi kita tidak akan mengatakan bahwa Project Pop band kampungan karena kita tahu mereka sengaja melakukan itu supaya orang tertawa. Dibandingkan dengan mereka, Wali adalah band yang serius (paling tidak setahu aku), tetapi mereka malah menghasilkan lagu-lagu yang kampungan.

Logikanya seperti ini. Pernah mengadakan sandiwara kecil untuk ditonton teman sendiri, bukan? Walau sandiwaranya jelek dan pemainnya tidak serius, penonton masih bisa menikmatinya sebagai komedi. Akan tetapi, bila sandiwara yang sama diadakan di hadapan penonton dari kalangan seniman, pasti akan langsung dimaki-maki. Wali dan band-band lain yang sejenis ingin dianggap serius, tetapi karya mereka hanya setingkat bahan tertawaan. Karena itu, daripada pusing-pusing mengeluh, lebih baik anggap saja mereka sebagai band komedi.

15 September 2009 at 7:07 pm Tinggalkan Komentar


Tulisan Terkini


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.