Posts filed under 'Opini'

Lagu Kampungan Bagus Bila Dianggap Komedi

Hari Minggu yang lalu, aku membaca di koran bahwa Project Pop baru saja mengeluarkan album baru berjudul You Got. Berikut adalah klip single pertama album itu, “Batal Kawin”.

Bisa dilihat bahwa mereka masih konsisten dengan membawakan lagu komedi. Kelucuan lagu itu muncul dari aransemen yang berubah genre pada saat lirik lagu berkata bahwa tokoh gagal kawin. Mereka menggunakan trik yang sama dalam beberapa lagu mereka seperti “Dangdut Is The Music of My Country” dan “Dugem vs Metal”.

Mengenai gaya musik itu, kita bahas di lain hari. Hal yang ingin aku bahas sekarang adalah sebuah pikiran mengenai lagu Indonesia yang muncul akhir-akhir ini. Coba perhatikan klip berikut ini, “Cari Jodoh” karya Wali.

“Kampungan!”, beberapa dari pembaca akan berkata lalu dilanjutkan dengan, “Ya, inilah kenapa industri musik kita gak maju-maju,” atau “Daripada dengerin lagu kayak gitu mendingan lagu luar aja, deh!”. Aku setuju, tapi untuk sekarang ini kita belum bisa melakukan apa-apa. Oleh karena itu, kita harus mengubah sedikit cara pandang terhadap lagu-lagu seperti itu.

Anggap saja mereka sebagai band komedi.

Coba bandingkan dengan single Project Pop di atas. Tema lirik kedua lagu itu sama-sama mengenai pernikahan dan gaya bahasanya tidak jauh berbeda, tetapi kita tidak akan mengatakan bahwa Project Pop band kampungan karena kita tahu mereka sengaja melakukan itu supaya orang tertawa. Dibandingkan dengan mereka, Wali adalah band yang serius (paling tidak setahu aku), tetapi mereka malah menghasilkan lagu-lagu yang kampungan.

Logikanya seperti ini. Pernah mengadakan sandiwara kecil untuk ditonton teman sendiri, bukan? Walau sandiwaranya jelek dan pemainnya tidak serius, penonton masih bisa menikmatinya sebagai komedi. Akan tetapi, bila sandiwara yang sama diadakan di hadapan penonton dari kalangan seniman, pasti akan langsung dimaki-maki. Wali dan band-band lain yang sejenis ingin dianggap serius, tetapi karya mereka hanya setingkat bahan tertawaan. Karena itu, daripada pusing-pusing mengeluh, lebih baik anggap saja mereka sebagai band komedi.

Add comment 15 September 2009

Sembilan Puluh Persen dari Segala Sesuatu Adalah Sampah

Mungkin kamu sering mengunjungi situs yang membolehkan penggunanya untuk menerbitkan karya mereka dengan cuma-cuma. Mungkin kamu sering melihat blog-blog yang berkeliaran di internet. Kamu berharap bisa menemui sesuatu yang layak untuk dinikmati, tetapi setelah berjam-jam mengeklik tautan yang ada, kamu jadi menyadari suatu hal:

“Banyak sekali sampah di internet, ya?”

Kesimpulan itu merupakan inti dari Hukum Sturgeon.  Judul tulisan ini merupakan terjemahan dari bahasa Inggris yang berbunyi, “90% of everything is crud“. Menurut TV Tropes, hukum ini pertama kali disebutkan dalam Venture Science Fiction edisi Maret tahun 1958 oleh pengarang fiksi ilmiah Theodore Sturgeon untuk menjelaskan mengapa fiksi ilmiah terlihat seperti genre yang tidak bermutu.

Hukum Sturgeon dapat dijelaskan sebagai akibat tidak adanya batas antara pencipta karya dengan masyarakat luas. Coba perhatikan. Sebelum seseorang bisa menerbitkan sebuah buku, pertama kali dia harus berhadapan dengan editor, bukan? Bila naskah yang ia kirim memiliki banyak kekurangan, karyanya tidak akan bisa dilihat oleh orang lain. Oleh karena itu, dia akan berusaha membuat karya yang sebagus mungkin. Sekarang, dengan adanya internet, orang bisa menerbitkan karya mereka dengan bebas. Bersamaan dengan ego yang besar dan kemampuan yang kurang bagus, internet menjadi penuh dengan sampah.

Termasuk blog ini, mungkin….

Add comment 14 September 2009

Dunia Paralel, Hitler, Gombal

Waktu SMA, aku pernah menulis sebuah cerpen untuk majalah sekolah. Seingatku, sekelas disuruh oleh guru Bahasa Indonesia untuk membuat sesuatu yang nanti akan dimuat dalam majalah. Aku berpikiran untuk menulis sebuah cerpen berdasarkan suatu ide yang waktu itu terngiang di kepalaku. Ide itu adalah dunia paralel.

Dunia paralel adalah dunia lain yang serupa dengan dunia kita, tetapi memiliki sejarah yang berbeda. Mudahnya seperti ini. Kita selalu dihadapi oleh berbagai pilihan. Di dunia ini, kita mengambil satu pilihan, tetapi di dunia yang lain, kita memillih pilihan yang lain. Dalam kata lain, ada tak hingga banyak dunia dalam alam semesta ini dan setiap kemungkinan pilihan pasti terjadi di satu dunia atau lebih.

Kalau di cerita yang menggunakan konsep dunia paralel, biasanya seorang penulis memilih satu kejadian penting dalam sejarah sebagai titik percabangan. Sebagai contoh, titik yang paling sering digunakan adalah kemungkinan yang terjadi bila Hitler memenangkan Perang Dunia Ke-2. Dari situ, penulis akan memikirkan bagaimana dunia akan berjalan selanjutnya. Apakah dunia akan bersatu di bawah bendera Jerman? Apakah ideologi Nazi akan dianut oleh masyarakat luas? Apakah kumis kecil akan menjadi tren di kalangan laki-laki?

Suatu saat aku kepikiran, “Bagaimana kalau titik percabangan itu terletak di jalur hidup seseorang yang biasa?” Aku rasa ini membuat ceritanya lebih dekat ke kehidupan sehari-hari dan lebih “melankolis”. Bukankah kita semua pernah berpikir tentang apa yang akan terjadi bila suatu kejadian berjalan di jalur yang berbeda?

Mungkin saja, di dunia lain kamu berhasil menemukan orang yang 100% sempurna untuk kamu karena kamu belok kiri di sebuah persimpangan, suatu keputusan yang tidak kamu ambil di dunia ini. Mungkin saja, di dunia lain kamu masih bisa bersama dengan seseorang yang kamu sayangi karena dia tidak pernah pindah ke kota lain.

Kadang-kadang aku ingin melihat dunia itu.

Jadi, bagaimana cerita cerpennya?

Seorang lelaki menulis sebuah surat perpisahan kepada teman perempuan lamanya. Mereka berdua dulu sangat dekat waktu masih kecil, tetapi suatu saat mereka berpisah. Ketika mereka bertemu lagi, mereka berdua sudah menjalani hidup yang berbeda. Teman perempuannya menjadi orang yang gaul dan dikenali banyak orang sedangkan lelaki itu masih seperti dulu. Seiring dengan waktu, mereka tidak menjalankan hubungan lagi. Lelaki itu menjadi seorang ilmuwan dan temannya menjadi seorang model terkenal. Lelaki itu terus mengirim surat kepada temannya, tetapi tidak pernah dibalas. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk menggunakan mesin yang ia ciptakan untuk meninggalkan dunia ini karena dia sudah putus asa. Kata-kata terakhirnya di suratnya:

“Mungkin kamu tidak akan peduli, tetapi seandainya aku salah, ingatlah satu hal. Di suatu dunia lain, kita tidak pernah berpisah.”

Bila aku baca lagi, tulisannya sedikit gombal. Mungkin nanti aku akan memperluas ceritanya.

Atau apakah sudah terjadi di dunia lain?

1 comment 11 September 2009

Lagu Patah Hati Juga Bisa Enak Didengar

Salah satu keluhan untuk dunia musik Indonesia sekarang adalah bahwa lagu-lagu Indonesia hanya bertema cinta dan cengeng. Aku setuju, tapi sebenarnya tidak mudah untuk menilai sebuah lagu. Menurutku, sebuah lagu tidak akan terdengar cengeng seandainyapun liriknya memang cengeng apabila musiknya dibuat tidak cengeng.

Perhatikan contoh berikut.

Video di atas adalah Pinkan Mambo dengan lagu “Kekasih yang Tak Dianggap”. Bagiku, ini adalah salah satu contoh baik untuk menggambarkan lagu-lagu Indonesia sekarang. Yang membuat lagu tersebut terdengar cengeng adalah alunan balada dan suara Pinkan Mambo yang merengek. Sebenarnya suara Pinkan Mambo termasuk bagus dan khas, tapi berdasarkan lagu ini, seharusnya dia tidak boleh lagi menyanyikan lagu balada cinta.

Bandingkan dengan ini.

Video di atas adalah lagu tema penutup anime Sayonara Zetsubou Sensei yang berjudul “Koiji Romanesque”. (Aku merekomendasikan anime ini bagi yang suka humor gelap, tapi itu cerita untuk lain waktu). Aku rasa walaupun liriknya tidak dapat dimengerti, lagu ini masih bisa dinikmati karena alunan pop retronya yang jauh berbeda dari sebagian besar lagu Indonesia sekarang. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih seperti ini.

Seandainya aku tidak pernah bertemu denganmu, mimpiku tidak akan buruk.

Seandainya kamu tidak pernah lahir, aku tidak akan pernah mengenal rasa cemburu dan sakit hati.

Yang kau inginkan adalah orang yang berlainan denganku.

… dan seterusnya. Tidak jauh beda dari lirik lagu Indonesia, bukan?

1 comment 18 Juli 2008

Sinetron Mengajarkan Ilmu Telepati

Aku rasa di Indonesia ada dua jenis orang, yaitu orang yang menonton sinetron dan orang yang membencinya. Bagi yang menonton sinetron, sinetron adalah sebuah sarana untuk melepaskan kejenuhan setelah seharian bekerja. Bagi yang membencinya, sinetron adalah alasan mengapa mereka jarang menonton TV atau berlangganan kabel.

Aku termasuk dalam kubu pembenci.

Nah, banyak alasan mengapa sinetron dibenci oleh kubu itu. Ada yang bilang ceritanya tidak pernah jauh dari percintaan. Ada yang bilang para pemeran tokoh tidak layak disebut aktor. Sekarang aku mau memberi tahu salah satu alasan mengapa aku tidak suka pada sinetron.

Penonton sinetron diberi kemampuan telepati.

Kamu pernah memperhatikannya, kan? Di dalam sinetron pikiran semua tokoh bisa didengar penonton. Biasanya adegan ketika penonton mendengar pikiran itu diiringi dengan tokoh yang diam di tempat dan mengeluarkan ekspresi seperti orang gila.

Menurutku, adegan seperti itu merupakan bukti bahwa penulis skenario kurang kreatif dalam menunjukkan kondisi pikiran seorang tokoh melalui tindakannya. Antara itu, atau skenario sengaja dibuat supaya kemampuan pemeran tokoh yang jelek dapat ditutupi.

Sebenarnya, aku tidak akan mempermasalahkannya kalau hanya ada satu tokoh yang pikirannya bisa didengar penonton selama sinetron itu berlangsung atau dalam tiap episode. Penonton bisa tahu bahwa tokoh itu merupakan tokoh utama dalam sinetron atau episode tersebut sehingga penonton bisa dengan mudah bersimpati terhadap tokoh itu.

Add comment 13 Juli 2008


Tulisan Terakhir

Kategori

Arsip

Blogroll

Referensi

Komentar Terakhir

mikunishiteageru di Darlin’ Please!: Pe…
zipoer7 di Darlin’ Please!: Pe…
Agus Suhanto di Dunia Paralel, Hitler, Go…
Mau Cewek Cantik? di Lagu Patah Hati Juga Bisa Enak…