Posts filed under ‘Ulasan’

Konbini: Miku Dan Alat Musik Elektronik

Sebelumnya, aku minta maaf karena minggu kemarin tidak ada tulisan Hatsune Miku. Aku sedang berada di Bandung dan koneksi internet yang ada di sana kurang bisa diandalkan.

Mari kita lanjutkan!

Lagu di atas adalah コンビニ (Konbini) karya cokesi. Inti dari lagu itu sesuai dengan klip videonya, yaitu cerita tentang seseorang yang tertarik dengan seorang karyawan sebuah minimart.

Lagu ini merupakan salah satu contoh lagu Hatsune Miku yang menonjolkan alat musik elektronik. Dari yang aku lihat selama ini, banyak lagu Miku yang seperti itu. Aku memikirkan dua alasan mengapa itu bisa terjadi.

Pertama, lagu pop Jepang memiliki kecenderungan terhadap pemakaian alat musik elektronik yang menonjol. Coba perhatikan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh idola-idola Jepang. Tidak jauh beda, bukan? Karena Miku juga merupakan idola, pencipta lagu membuat lagu yang sesuai dengan kecenderungan lagu-lagu itu.

Yang kedua, suara Miku memang cocok bila dia bernyanyi dalam musik yang serba elektronik. Dalam lagu techno dan sejenisnya, suara penyanyi sering dikenakan efek khusus yang membuat suara mereka seperti suara robot. Miku tentu memiliki ciri-ciri suara robot. Kedua hal tersebut menyebabkan suara Miku terdengar lebih alami.

9 Oktober 2009 at 9:29 pm Tinggalkan Komentar

Ulasan Film: Apartment 1303

Sinopsis

Dari Cinema 21

Apartemen 1303 bercat putih, terang dan berada di lantai tiga belas. Pemandangan laut yang indah dikamar apartemen tersebut menyimpan kisah mencengangkan

Beberapa gadis memutuskan untuk bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari balkon disebuah apartemen yang baru mereka tempati. Saat Yuka, pindah ke apartemen tersebut, ia tidak menyangka akan bernasib lebih baik. Saat ia mulai membereskan barang-barangnya, ia menyadari bahwa seseorang turut menghuni kamar itu….

Ulasan

Pada awalnya aku tidak berencana untuk menonton film ini, tapi ketika aku melihat bahwa itu film Jepang, aku jadi mau. Sepertinya film Jepang jarang keluar di bioskop sini, apalagi di Cinema 21.

Apartment 1303 mungkin tidak seseram yang aku bayangkan, tapi aku rasa film ini cukup baik dalam segi horor. Horor yang disajikan di sini tidak seperti film horor Indonesia yang mengagetkan penonton secara bertubi-tubi. Horor lebih dibangun oleh suasana mencekam yang datang secara perlahan-lahan. Bila diibaratkan, ia seperti rasa horor yang muncul ketika kamu melihat sebuah foto dan baru menyadari ada hantu di belakang setelah memperhatikan foto tersebut dengan baik-baik. Tentu saja masih ada beberapa adegan yang mengagetkan penonton, tapi ada jeda antara tiap adegan tersebut sehingga lebih efektif.

4 Agustus 2008 at 5:40 pm Tinggalkan Komentar

Ulasan Musik: Ronaldisko

Ronal Surapradja, seorang aktor yang kita kenal dari Extravaganza, baru saja mengeluarkan album baru berjudul Ronaldisko. Dalam pembuatan album ini, ia dibantu oleh DJ.M, Luthfi dan Indra Lesmana. Album ini berisi 9 lagu bernuansa tahun 80-an yang kental dengan suara synthesizer.

Bagus juga.

Sebenarnya aku membeli album ini karena berharap mirip dengan musik Electric Light Orchestra pada masa awal 80-an. Sejak mengenal mereka, aku lebih mengapresiasi musik yang menggunakan synthesizer. Pada akhirnya memang berbeda, tapi aku tetap menyukainya.

Menurutku, album ini menarik karena lagu-lagunya bervariasi, tapi tetap dalam nuansa 80-an. Selain lagu yang sangat kental dengan synthesizer-nya seperti “Penakluk Wanita” dan “Dunia Gembira (Dugem)” dan lagu berirama lambat seperti “Rindu-rindu” dan “Sombong”, ada juga lagu yang lebih nge-rock seperti “Kau Tak Kan Pernah Bisa”, dan “Optimis”, bahkan menurutku “Optimis” terdengar seperti Franz Ferdinand.

Irama sebagian besar lagu ini tidak seperti lagu dugem. Mungkin bagi orang lain ini hal yang jelek, tapi aku lebih menyukai musik yang seperti itu karena synthesizer sudah terlalu sering dikaitkan dengan lagu dansa. Terdengar lebih menarik apabila alat musik itu digunakan sebagaimana mestinya, yaitu sebagai salah satu alat bagi pemusik untuk menciptakan lagu dengan musikalitas tinggi.

Sebagai bayangan, berikut adalah klip untuk lagu “Maya”.

27 Juli 2008 at 8:40 am Tinggalkan Komentar

Ulasan Film: Tri Mas Getir

Sinopsis

Ciang Pek tinggal bersama engkongnya di sebuah perguruan wushu dan merupakan pewaris satu-satunya perguruan tersebut. Sugeng memiliki istri gendut yang ia sayangi. Ujang tinggal bersama ayahnya yang memiliki rumah makan Padang. Mereka bertiga bekerja sebagai figuran dan merupakan murid di perguruan engkong Ciang Pek. Suatu hari, secara tiba-tiba engkong Ciang Pek meninggal dunia. Dia tidak hanya meninggalkan perguruannya, tapi juga hutang yang belum lunas. Karena sudah putus asa, Ciang Pek dan kawan-kawan memutuskan untuk menculik Katrina, seorang bintang muda.

Ulasan

Tri Mas Getir adalah sebuah komedi yang berbeda dengan film-film komedi sekarang ini. Satu hal yang menonjol adalah bahwa film ini bukan komedi seks seperti Kawin Kontrak atau XL. Memang ada beberapa lelucon yang berhubungan dengan hal itu, tetapi seks bukanlah unsur utama dari komedi yang ditawarkan film ini. Menurutku, jenis komedi yang ditampilkan dalam film ini adalah gabungan antara humor Extravaganza dan humor film parodi dari Barat sejenis Airplane! atau Dracula: Dead and Loving It.

Sebagai gambaran, ada adegan ketika Sugeng bertanya mengapa engkong Ciang Pek meninggal. Langsung ditampilkan engkong sedang makan dan tiba-tiba sekarat sambil bergaya kung fu yang konyol lalu tersungkur di atas meja. Murid-murid langsung datang dan mencoba menolong engkong. Ada seseorang yang terus bertanya, “Guru kenapa, Guru kenapa!”. Engkong bangun lagi dan menjawab, “Ya, mati bego!”. Dia mati lagi.

Sayangnya, filmnya mulai mengecewakan mulai dari bagian pertengahan. Lelucon yang dilontarkan mulai tidak memiliki alasan yang jelas, seakan-akan hanya dilakukan supaya banyak adegan komedi. Ada Sugeng yang tiba-tiba punya keinginan untuk melempar celana dalam ke muka orang. Hal ini juga bisa dilihat di adegan kejar-kejaran mobil yang sepertinya hanya untuk memperpanjang film.

Kesimpulannya, film ini salah satu jenis film yang seharusnya bagus, tetapi tidak bagus karena tidak diiringi oleh pelaksanaan yang mantap.

10 Juli 2008 at 2:10 pm Tinggalkan Komentar


Tulisan Terkini


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.